Jakarta (beritajatim.com) – Mastercard Center for Inclusive Growth, bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia dan 60 Decibels, telah meluncurkan Small Business Barometer Report. Laporan ini mengungkapkan tiga tantangan utama yang menghambat pertumbuhan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Indonesia: kurangnya literasi digital, dukungan struktural yang kurang memadai, dan terbatasnya akses kredit.
Penelitian oleh 60 Decibels memberikan wawasan mendalam mengenai kondisi yang dihadapi UMK di Indonesia, mencakup kesulitan, kebutuhan pendampingan, akses kredit, ambisi, dan pemahaman digital. Laporan ini juga mempertimbangkan isu-isu gender.
Pemilik usaha kecil menyadari manfaat perangkat digital, dengan dua pertiga UMK menggunakan platform e-commerce (46 persen) dan e-wallet atau bank digital (34 persen). Namun, mereka menghadapi kendala besar dalam literasi digital. Sebanyak 64 persen pemilik UMK tidak mengetahui perangkat mana yang cocok untuk kebutuhan spesifik mereka.
Layanan dukungan seperti pelatihan pengembangan usaha, manajemen keuangan, dan keahlian digital sangat penting bagi UMK, namun hanya sepertiga yang mengakses layanan ini dalam setahun terakhir. Sebanyak 70 persen usaha kecil di Indonesia menganggap layanan ini penting, tetapi akses terhadap pelatihan keterampilan keuangan (89 persen), pelatihan pemasaran digital (88 persen), dan pelatihan usaha serta manajemen sumber daya manusia (89 persen) masih sangat terbatas.
Dua pertiga UMK tidak mengakses kredit atau pinjaman dalam 12 bulan terakhir, dengan 62 persen menyatakan tidak membutuhkan kredit. Walaupun hampir separuh dari mereka yang mencari kredit tidak menemukan hambatan, tantangan seperti suku bunga tinggi (31 persen), kurangnya agunan (16 persen), dan kurangnya informasi (15 persen) tetap menjadi kendala utama.
Kesetaraan Gender dan Dukungan Finansial
UMK yang dipimpin lelaki dan perempuan berada pada posisi yang cukup setara dalam mengakses layanan dukungan. Sebanyak 37 persen wirausaha perempuan mengajukan kredit, lebih tinggi dibandingkan wirausaha lelaki. Hal ini mencerminkan inisiatif yang ditujukan untuk meningkatkan akses kredit bagi wirausaha perempuan.
Sejak 2017, Mastercard telah mendukung lebih dari 1,8 juta usaha kecil melalui pelatihan, pendampingan, dan konten edukasi yang mudah dipahami. Inisiatif seperti Mastercard Strive dan Mastercard Academy 2.0 membantu mempercepat akses terhadap produk finansial dan solusi digital.
Maliki, Ph.D., Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas, menekankan pentingnya laporan ini untuk membekali para pembuat kebijakan dengan perangkat yang tepat sasaran demi pertumbuhan UMK yang berkelanjutan di Indonesia.
Subhashini Chandran, Vice President Social Impact Asia Pacific Mastercard Center for Inclusive Growth, menyatakan bahwa laporan ini bertujuan memberikan informasi serta menginspirasi tindakan yang terfokus untuk mendukung digitalisasi dan akses kredit bagi UMK di Indonesia.
Ade Soekadis, Executive Director Mercy Corps Indonesia, menambahkan bahwa wawasan ini menjembatani kesenjangan antara pemangku kepentingan dan pemilik usaha kecil, serta memastikan UMKM menerima dukungan menyeluruh yang mereka butuhkan untuk berkembang.
Laporan ini didasarkan pada wawancara dengan 835 usaha kecil di daerah perkotaan dan pedesaan dari November 2023 hingga Januari 2024. Penelitian ini menargetkan usaha mikro dan kecil di sektor makanan dan minuman, mode, kerajinan non-mebel, serta sektor pariwisata. (hdl)

