Jakarta (beritajatim.id) – Pemerataan infrastruktur digital dinilai masih menjadi tantangan utama dalam percepatan transformasi digital usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Padahal, sektor ini memiliki peran vital dalam perekonomian nasional dengan kontribusi mencapai 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap 97 persen tenaga kerja, dan mewakili 99 persen dari seluruh unit bisnis di Tanah Air.
Dalam acara National Technology Summit 2025 yang diselenggarakan oleh Linknet dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di The Kasablanka Hall, Jakarta, Rabu (11/5), berbagai pemangku kepentingan menyoroti pentingnya percepatan pemerataan infrastruktur digital untuk mendukung kemajuan UMKM.
UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Digital
Direktur Digital & Sustainability Grab Indonesia, Rivana Mezaya, mengatakan UMKM merupakan penggerak utama ekonomi nasional yang berpotensi tumbuh pesat bila mendapatkan dukungan teknologi dan infrastruktur digital yang memadai.
“Yang terpenting adalah bagaimana agility UMKM dalam menghadapi perubahan ekonomi dan pasar, serta memanfaatkan teknologi untuk efisiensi dan memaksimalkan potensi bisnisnya,” ujar Rivana.
Sejak tahun 2018, Grab Indonesia telah membantu sekitar 4,6 juta UMKM melakukan digitalisasi bisnis melalui berbagai platform dan solusi teknologi yang disediakan perusahaan, termasuk sistem pembayaran digital, layanan pengiriman, dan pemasaran berbasis aplikasi.
Tantangan Pembangunan Infrastruktur Digital
Sementara itu, Chief Enterprise Business Officer Linknet, Linggajaya Budiman, mengungkapkan bahwa tantangan geografis Indonesia menjadi salah satu kendala terbesar dalam pemerataan jaringan digital.
“Indonesia bukan hanya luas, tapi juga terdiri dari banyak pulau dengan kondisi geografis yang beragam. Ada gunung, lembah, dan wilayah terpencil yang membuat pembangunan jaringan tidak mudah,” katanya.
Linggajaya menegaskan bahwa konektivitas kini telah menjadi kebutuhan dasar bagi pelaku usaha di era digital. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan penyedia layanan internet menjadi kunci untuk mempercepat pemerataan infrastruktur.
“Tantangan ini bukan hanya dihadapi Linknet, tapi juga seluruh operator telekomunikasi di Indonesia. Semua pihak harus bersama-sama memperluas akses digital agar manfaatnya bisa dirasakan hingga ke pelosok,” imbuhnya.
Dukungan Lippo Karawaci untuk Digitalisasi UMKM
Dalam kesempatan yang sama, President Director PT Lippo Karawaci Tbk, Marlo Budiman, menegaskan komitmen sektor swasta dalam mendukung pertumbuhan dan kemandirian UMKM melalui jaringan Lippo Malls Indonesia.
“Salah satu wujud nyata dukungan kami terhadap UMKM adalah dengan menyediakan ruang di atrium atau area mal untuk kegiatan usaha mereka,” ujar Marlo.
Saat ini, Lippo Malls Indonesia mengoperasikan 69 mal yang tersebar di 36 kota. Melalui jaringan tersebut, perusahaan aktif memberikan fasilitas ruang usaha, pelatihan bisnis, dan literasi digital kepada pelaku UMKM agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah peningkatan konektivitas digital di pusat perbelanjaan serta pelatihan pemanfaatan sistem pembayaran digital berbasis QR Code.
“Sekarang sudah bukan zamannya lagi transaksi tunai. Digitalisasi menjadi keharusan agar UMKM bisa bersaing,” tegas Marlo.
Kolaborasi Jadi Kunci Akselerasi
Para pemangku kepentingan sepakat bahwa percepatan transformasi digital UMKM tidak hanya bergantung pada ketersediaan infrastruktur, tetapi juga pada edukasi, literasi digital, dan kolaborasi lintas sektor.
Dengan dukungan teknologi dari sektor swasta seperti Grab, Linknet, dan Lippo Karawaci, serta kebijakan pemerintah yang pro-transformasi digital, diharapkan jutaan pelaku UMKM Indonesia dapat naik kelas dan berdaya saing di tingkat regional maupun global. (aga)

