Malang (beritajatim.id) – Upaya pemberdayaan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Desa Jambesari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang mendapat angin segar melalui pendampingan yang dilakukan oleh Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 25 Universitas Brawijaya (UB).
Dalam kegiatan yang berlangsung selama program MMD 2025 tersebut, para mahasiswa melakukan berbagai pendampingan strategis, mulai dari optimalisasi kemasan produk UMKM 2J Bakery, hingga membantu penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan penetapan titik lokasi usaha di Google Maps untuk empat UMKM lokal.
Program ini diinisiasi oleh Muhammad Akbar Ghifari selaku Koordinator Desa dari Fakultas Teknologi Pertanian UB. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap kurangnya kesesuaian kemasan produk UMKM serta minimnya legalitas dan visibilitas digital yang dimiliki pelaku usaha.
“Kemasan yang baik bukan hanya soal estetika, tapi juga syarat penting untuk lolos sertifikasi seperti halal, PIRT, dan izin edar. Sementara, NIB dan Google Maps menjadi gerbang penting untuk meningkatkan kredibilitas dan akses pasar UMKM,” jelas Akbar.
Kemasan Lebih Profesional, UMKM Semakin Siap Bersaing
UMKM 2J Bakery menjadi salah satu sasaran utama dalam optimalisasi kemasan. Mahasiswa UB memberikan pendampingan agar kemasan produk memiliki standar profesional, termasuk mencantumkan nama merek, informasi produk, logo halal, alamat produsen, izin edar, tanggal kadaluarsa, berat bersih, daftar bahan, alergen, hingga informasi nilai gizi.
Pendampingan ini juga merupakan bagian dari kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Legalitas Usaha Melalui NIB, Akses Pasar Lebih Luas
Langkah penting lainnya adalah penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk empat UMKM lokal, yakni 2J Bakery, Arum Collection, Mabel Aqila, dan satu toko pertanian.
NIB memberikan legalitas resmi yang menjadi kunci bagi UMKM untuk mengakses pelatihan kewirausahaan, program pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga bantuan pemerintah lainnya.
Dengan kepemilikan NIB, pelaku usaha dinilai lebih profesional, memiliki kredibilitas yang lebih tinggi di mata konsumen, serta berpeluang besar menjalin kemitraan dengan lembaga formal.
Tercantum di Google Maps, Makin Mudah Ditemukan
Tak hanya mengurus legalitas, mahasiswa juga membantu mendaftarkan titik lokasi empat UMKM tersebut di Google Maps. Kehadiran UMKM di platform digital ini dinilai sangat penting, terutama dalam meningkatkan aksesibilitas konsumen, promosi gratis, dan daya saing di era digital.
“Sekarang masyarakat maupun pendatang bisa lebih mudah menemukan lokasi usaha seperti 2J Bakery dan toko pertanian di Google Maps. Ini adalah langkah kecil dengan dampak besar bagi pertumbuhan UMKM,” tambah Akbar.
Sinergi Legalitas dan Digitalisasi Jadi Pondasi UMKM Berkelanjutan
Pendampingan yang dilakukan Mahasiswa UB ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara legalitas usaha (melalui NIB) dan digitalisasi (lewat Google Maps) dapat mendorong UMKM tumbuh secara profesional, adaptif, dan berkelanjutan.
Dengan langkah strategis ini, UMKM di Desa Jambesari kini semakin siap untuk menjawab tantangan pasar yang makin kompetitif, serta menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang lebih maju dan inklusif. (hdl)

