Jakarta (beritajatim.com) – Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mendorong pengembangan industri UMKM berbasis komoditas lokal unggulan. Ia menekankan pentingnya mengolah sumber daya alam hasil perkebunan dan pertanian sebagai fondasi industri nasional ke depan.
“Kita harus membangun pabrik-pabrik skala kecil dan menengah berbasis bahan baku dan keunggulan domestik yang dimiliki,” kata Teten dalam keterangan resmi di Jakarta.
Dalam orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Senat Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) di Sukabumi, Jawa Barat, Teten menekankan pentingnya menciptakan lapangan kerja berkualitas. Salah satu cara yang disarankannya adalah pembangunan pabrik skala kecil yang mengolah bahan baku unggulan domestik.
Menurut Teten, Indonesia perlu memanfaatkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh setiap daerah. Sebagai contoh, Indonesia adalah penghasil sawit terbesar di dunia, namun ekspor masih terbatas pada CPO dan minyak goreng. Teten mencontohkan, perusahaan besar mampu mengolah sawit menjadi bahan baku untuk puluhan produk berbeda.
Teten Masduki juga menyoroti industri parfum di Prancis yang 95 persen bahan bakunya berasal dari Indonesia. Hal serupa terjadi pada industri kecantikan di Korea Selatan yang menggunakan bahan baku seperti ekstrak lidah buaya, alpukat, dan tanaman herbal lainnya dari Indonesia.
“Kita kaya, tapi kenapa tidak kita olah sendiri sumber daya alam ini? Minimal menjadi bahan setengah jadi sehingga bisa menyuplai industri nasional dan global,” kata Teten.
Program Strategis Kemenkop UKM
Untuk mendukung pengolahan sumber daya lokal, Kemenkop UKM memiliki program strategis untuk membangun banyak rumah produksi bersama dengan biaya Rp10 miliar hingga Rp20 miliar. Program ini bertujuan mengolah berbagai sumber daya yang dimiliki Indonesia.
Teten menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi kuat di sektor agrikultur dan akuakultur yang bisa dikembangkan menjadi komoditas utama. Ia mencontohkan Norwegia yang kini bergantung pada budidaya ikan salmon sebagai sumber pendapatan utama negara tersebut. Di level ASEAN, Vietnam telah serius mengembangkan akuakultur, khususnya budidaya ikan baramundi atau kakap putih.
“Sukabumi kaya akan ikan kakap putih. Kenapa Vietnam kembangkan itu? Karena baramundi bakal menjadi pengganti salmon di tengah iklim pemanasan global,” jelas Teten. (hdl)

