Semarang (beritajatim.id) – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur, Arumi Bachsin, mendorong penguatan kolaborasi UMKM berbasis budaya dalam ajang Dekranasda Modest & Iftar Festival (D’Modifest) 2026 di Atrium The Park Mall, Semarang, Sabtu (28/2).
Dalam forum talkshow tersebut, Arumi menekankan bahwa pengembangan industri kriya dan modest fashion nasional membutuhkan sinergi antardaerah. Ia menilai pendekatan parsial tidak lagi relevan di tengah kompetisi pasar yang semakin terbuka dan dinamis.
Menurut Arumi, setiap daerah memiliki kekhasan budaya yang dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dihubungkan dalam jejaring kolaboratif. Melalui sinergi lintas wilayah, produk UMKM dinilai lebih mudah menembus pasar nasional bahkan global tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi memungkinkan pertukaran ide, teknik, serta inovasi desain yang tetap berakar pada tradisi. Dengan demikian, produk kriya dan modest fashion Indonesia dapat tampil lebih kompetitif sekaligus otentik.
Digitalisasi dan Cerita Budaya Jadi Nilai Tambah
Arumi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam membangun merek UMKM berbasis budaya. Di era ekonomi kreatif, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga cerita dan nilai yang menyertainya.
Motif, teknik produksi, hingga kisah turun-temurun di balik sebuah karya disebutnya sebagai diferensiasi utama yang tidak dimiliki produk massal. Pendekatan storytelling dinilai mampu meningkatkan daya tarik sekaligus loyalitas pasar.
Tantangan Akses Pasar dan Jejaring Distribusi
Meski kualitas produk UMKM dinilai semakin baik dan siap bersaing, Arumi mengakui tantangan terbesar saat ini adalah perluasan akses pasar. Penguatan distribusi, promosi terpadu, serta kemitraan lintas daerah menjadi langkah strategis agar produk lokal tidak berhenti di pasar regional.
Ia memandang perlu adanya kerja sama konkret antar-Dekranasda dan pelaku usaha untuk membuka jalur pemasaran yang lebih luas, termasuk melalui platform digital dan pameran nasional.
Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara
Dalam kesempatan tersebut, Arumi menegaskan posisi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara memiliki peran strategis dalam menghubungkan potensi ekonomi kreatif antarkawasan. Dukungan infrastruktur, konektivitas logistik, serta jaringan perdagangan yang berkembang dinilai menjadi modal penting.
Konsep tersebut bukan sekadar slogan, melainkan arah pembangunan untuk memperkuat integrasi ekonomi berbasis budaya.
Kolaborasi untuk Daya Saing Nasional
Melalui D’Modifest 2026, Arumi berharap kolaborasi lintas daerah tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan dalam langkah nyata yang memperkuat daya saing UMKM. Ia optimistis, apabila sinergi terus diperkuat, budaya Indonesia dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Ajang ini sekaligus menjadi ruang temu antara pelaku UMKM, pemangku kebijakan, dan masyarakat dalam mendukung industri modest fashion serta kriya berbasis kearifan lokal agar semakin berdaya saing di pasar yang lebih luas. (aga)

