Jakarta (pilar.id) – Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), menekankan bahwa pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dapat mengincar pasar konsumen milenial dengan menyediakan sarana pembayaran digital.
“Dalam waktu dekat, 79 persen dari kaum muda sudah terbiasa dengan pembayaran digital. Jika pelaku UMKM tidak siap dengan pembayaran digital, mereka mungkin akan kehilangan pelanggan,” kata Filianingsih seperti yang dilaporkan oleh Antara pada Rabu (12/7/2023).
Menurut Filianingsih, generasi milenial yang berusia antara 24 hingga 39 tahun tidak terbiasa membawa uang tunai dalam jumlah besar. Sebagian besar dari mereka lebih memilih bertransaksi secara digital atau non-tunai.
“Saya berani bertaruh bahwa jika kita melihat dompet mereka, biasanya hanya ada sekitar Rp20 ribu karena mereka cenderung menggunakan pembayaran digital,” tambahnya.
Oleh karena itu, BI memfasilitasi para pelaku UMKM untuk menggunakan kanal pembayaran dengan menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
“UMKM dapat dengan mudah mengakses pembayaran digital melalui QRIS tanpa perlu perangkat khusus. Mereka hanya perlu menempelkan atau mengenakan stiker QRIS,” jelasnya.
Selain membantu kenyamanan bertransaksi secara digital, QRIS juga mempermudah UMKM dalam memperoleh modal usaha karena data transaksi pembayaran dapat digunakan sebagai faktor penilaian kredit yang dapat mendorong kepercayaan bank untuk memberikan kredit.
“UMKM seringkali menghadapi masalah modal dan tidak memiliki jaminan yang cukup untuk mendapatkan pinjaman. Namun, melalui QRIS, riwayat transaksi mereka akan tercatat oleh bank,” papar Filianingsih.
Dia juga mengungkapkan bahwa BI terus mendorong pengembangan UMKM untuk meningkatkan performa bisnis mereka dengan berpegang pada tiga pilar, yaitu penguatan korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan peningkatan akses terhadap pembiayaan.
Lebih lanjut, Filianingsih menyatakan bahwa BI juga sedang mengembangkan strategi untuk meningkatkan performa ekspor UMKM dan memperluas digitalisasi UMKM dari hulu hingga hilir melalui program-program seperti e-farming, e-commerce, dan dukungan e-financing. (hdl)

