Mojokerto (beritajatim.com) – Desa Cinandang, yang terletak di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, ternyata memiliki kerajinan unik berupa sarung tenun.
Sayang, hanya ada satu warga di Dusun dan Desa Cinandang yang aktif memproduksi kerajinan tradisional ini. Nama perempuan tersebut adalah Kani.
Meskipun bukan asli warga Mojokerto, Kani tinggal di Desa Cinandang karena ia menikah dengan seorang warga Dusun Cinandang.
Sekitar empat tahun yang lalu, ia mulai menggeluti kerajinan sarung tenun yang ia warisi dari daerah asalnya di Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Meskipun hanya belajar selama satu minggu, kini ia mampu membuat empat motif sarung tenun.
“Setelah pindah ke sini sekitar empat tahun lalu, saya belajar selama satu minggu di Benjeng. Di sana, semua warga, baik pria maupun wanita, membuat kain tenun. Ini tradisi turun temurun. Namun, di sini, hanya saya yang bisa melakukannya. Saya memiliki enam anak laki-laki, namun tidak ada yang bisa membuatnya,” ungkapnya pada Jumat (5/5/2023).
Dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang ia pesan langsung dari Gresik, Kani membuat sarung tenun di rumahnya. ATBM tersebut diletakkan di teras rumahnya, dan setiap hari ia rajin memintal benang untuk dijadikan kain tenun.
“Dalam sehari, saya bisa membuat satu kain dengan panjang 4 meter. Tidak ada motif khas yang saya buat sendiri. Saya membuat motif yang sudah ada, seperti motif Lamiri, motif BHS Tex, motif Donggala, dan motif 210. Harga sarung tenun tergantung pada bahan yang diminta. Sutra asli memiliki harga yang lebih mahal. Sedangkan motif tergantung pada permintaan pelanggan,” jelasnya.
Kani membuat sarung tenun dengan motif dan bahan yang disesuaikan dengan pesanan. Harga yang ditawarkannya bervariasi, mulai dari Rp350 ribu hingga Rp750 ribu. Menurutnya, pemasaran produk kerajinannya tidak sulit karena sudah ada pelanggan yang datang langsung ke tempatnya.
“Harga sarung tenun berbeda-beda tergantung pada bahan yang digunakan. Sutra memiliki harga yang lebih mahal. Kami menggunakan bahan sutra asli atau campuran, sesuai permintaan pelanggan. Ya, ada yang membeli produk kami, baik dari Madura, luar Jawa, bahkan dari Sumatra dan Arab yang memesan motif Lamiri,” tambahnya.
Selain tidak kesulitan dalam pemasaran, Kani juga mengatakan bahwa ia tidak mengalami kesulitan dalam mencari bahan baku. Semua bahan yang digunakan berasal dari daerah asalnya di Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Namun, dari enam anaknya, tidak ada yang mewarisi keahlian Kani dalam menggeluti kerajinan sarung tenun.
“Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali saya. Enam anak saya semuanya laki-laki, dan tidak ada yang bisa melakukannya. Tidak sulit, saya mendapatkan bahan baku dari Gresik. Saya juga memesan alat tenun ini dari seorang tukang di Gresik karena di sini tidak ada. Rata-rata dalam sebulan, saya dapat membuat lima kodi sarung tenun,” jelasnya.
Namun, jika pesanan ramai, Kani mengatakan bahwa ia akan menghubungi perajin sarung tenun di tempat asalnya. Pasalnya, dalam sehari, ia hanya mampu menghasilkan satu sarung tenun dengan panjang 4 meter. (mis/hdl)

