Jakarta (beritajatim.id) – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan komitmennya dalam memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pemanfaatan inovasi digital dan perluasan akses pasar global. Upaya tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan UMKM Indonesia mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan lanskap perdagangan dunia yang semakin dinamis.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat menjadi pembicara utama dalam SME Workshop Indonesia 2026: Innovate to Scale bertema “Mendorong Pertumbuhan UMKM Indonesia dengan Inovasi Digital” yang diselenggarakan US-ASEAN Business Council (USABC) di Badung, Bali, Jumat (5/6).
Dalam forum tersebut, Dyah Roro menekankan bahwa keberhasilan UMKM tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk. Pelaku usaha juga harus memiliki pemahaman pasar yang kuat, menjaga standar mutu, membangun merek yang kompetitif, memanfaatkan teknologi digital, serta mampu membangun kepercayaan dengan calon pembeli di pasar domestik maupun internasional.
Menurutnya, transformasi tersebut menjadi semakin penting karena sektor perdagangan global tengah mengalami perubahan signifikan yang dipengaruhi digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), perkembangan platform digital, ekonomi hijau, perubahan preferensi konsumen, hingga dinamika rantai pasok dunia. Situasi tersebut juga diperumit oleh tantangan ekonomi dan energi yang masih membayangi perdagangan internasional.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah terus mendorong UMKM agar mampu naik kelas dan menjadi bagian dari ekosistem ekspor nasional. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah anggapan bahwa ekspor hanya dapat dilakukan perusahaan besar dan membutuhkan proses yang rumit. Padahal, dengan pendampingan yang tepat, akses teknologi, serta informasi pasar yang memadai, UMKM memiliki peluang besar untuk memasuki pasar internasional secara bertahap.
Kemendag saat ini menjalankan tiga pilar utama dalam memperkuat sektor perdagangan nasional. Pilar pertama adalah Pengamanan Pasar Dalam Negeri yang bertujuan memperkuat pasar domestik sebagai fondasi pertumbuhan UMKM. Pilar kedua, Perluasan Pasar Ekspor, difokuskan pada diversifikasi tujuan ekspor, promosi perdagangan, business matching, pemanfaatan perjanjian dagang, dan penguatan informasi pasar. Sementara pilar ketiga, Dari Lokal untuk Global, dirancang untuk mendorong produk Indonesia agar tidak hanya unggul di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing dan dipercaya di pasar dunia.
Dyah Roro menilai Indonesia masih menunjukkan ketahanan perdagangan yang positif meski dihadapkan pada berbagai tantangan global. Namun, pemerintah tidak hanya berfokus menjaga surplus perdagangan, melainkan juga memperluas jumlah pelaku ekspor nasional dengan melibatkan lebih banyak UMKM agar mampu menembus pasar regional dan global.
Workshop tersebut turut dihadiri Chief Representatives USABC Indonesia Nugraheni Utami, Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Ekonomi dan Keuangan I Wayan Ekadina, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM Sudayrono Rahmalifan, Ketua Umum KADIN Bali Made Ariandi, serta Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Nita Yudi. Sementara itu, Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Kemendag Bayu Nugroho hadir sebagai pemateri secara virtual.
Nugraheni Utami menilai penguatan UMKM saat ini harus berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya saing, bukan sekadar menambah jumlah pelaku usaha. Menurutnya, UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia sehingga perlu didukung agar semakin kuat dan mampu berkembang ke level yang lebih tinggi.
Dari sisi pelaku usaha, program pemberdayaan dan pelatihan dinilai memberikan manfaat nyata dalam membuka peluang ekspor. Sintawati, pemilik usaha perak Perak Mulia Abadi Bali yang telah mengekspor produknya ke Amerika Serikat sejak 2024, mengaku berbagai pelatihan yang diikuti membantunya memahami mekanisme ekspor secara langsung. Selain memperluas wawasan, kegiatan tersebut juga membuka peluang jaringan bisnis baru yang berpotensi meningkatkan akses ke pembeli internasional.
Dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Bali, Dyah Roro juga menjadi narasumber pada forum diskusi yang digelar Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali bertema “Connecting Local Potential di Global Markets”.
Pada kesempatan itu, ia mengajak para pengusaha muda untuk terus produktif dan memanfaatkan peluang pasar internasional. Kemendag, kata dia, siap memfasilitasi produk-produk unggulan Bali agar dapat menjangkau pasar global, mulai dari sektor kriya dan fesyen hingga komoditas nonkonvensional seperti kopi dan cokelat.
Kemendag juga menegaskan kesiapan menjadi penghubung antara pelaku usaha dengan calon pembeli potensial melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar dan mempercepat pertumbuhan ekspor produk lokal.
Sementara itu, Ketua Umum BPD HIPMI Bali Agung Bagus Pratiksa Linggih mengapresiasi dukungan Kemendag yang membuka peluang bagi pelaku usaha daerah untuk terhubung dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri serta berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia. Ia berharap semakin banyak produk asal Bali yang mampu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kontribusi terhadap ekspor nasional. (aga)

