Jakarta (beritajatim.id) – Setelah euforia Lebaran mereda, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menghadapi tantangan serius berupa penurunan penjualan. Kondisi ini menjadi fenomena yang kerap terjadi setiap tahun, ketika daya beli masyarakat mulai melemah setelah periode konsumsi tinggi selama Ramadan dan Idulfitri.
Di tengah situasi tersebut, langkah yang dilakukan PT TIMAH Tbk menjadi salah satu contoh konkret dukungan korporasi terhadap keberlangsungan UMKM. Perusahaan pelat merah ini aktif menyerap berbagai produk lokal untuk memenuhi kebutuhan internal, sekaligus membantu menjaga perputaran ekonomi pelaku usaha kecil.
Salah satu implementasi nyata terlihat dalam kegiatan halalbihalal perusahaan, di mana PT TIMAH Tbk membeli ribuan produk dari UMKM mitra. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan permintaan, tetapi juga memberikan napas tambahan bagi pelaku usaha yang sedang mengalami penurunan omzet.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK) yang dijalankan perusahaan. Program ini mencakup bantuan modal, pelatihan, pembinaan, hingga fasilitasi promosi dan pemasaran bagi UMKM di wilayah operasional.
Salah satu penerima manfaat, Yuliana, mengaku usahanya mendapat pesanan ratusan paket lada putih. Pesanan tersebut menjadi penopang penting di tengah kondisi penjualan yang menurun usai Lebaran. Selain menjaga arus kas tetap stabil, permintaan ini juga mendorong peningkatan aktivitas produksi.
Namun, ia juga menyoroti tantangan lain yang dihadapi UMKM saat ini, yakni kenaikan harga bahan baku dan kemasan. Biaya produksi yang meningkat tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual, karena daya beli masyarakat masih terbatas. Situasi ini membuat pelaku usaha harus mencari cara agar tetap bertahan tanpa membebani konsumen.
Untuk memenuhi pesanan dari perusahaan, proses produksi membutuhkan waktu sekitar satu minggu, mulai dari pengadaan bahan hingga pengemasan. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dalam bentuk pesanan langsung juga berdampak pada peningkatan kapasitas produksi UMKM.
Selain lada putih, berbagai produk lain seperti olahan hasil laut, camilan, dan produk rumahan juga turut diserap. Novika, misalnya, menerima pesanan hingga 500 paket produk. Baginya, jumlah tersebut menjadi pencapaian baru yang signifikan bagi usaha berbasis rumahan yang dijalankannya.
Hal serupa disampaikan Zulaikha yang merasakan peningkatan pendapatan dari pesanan tersebut. Ia menyebutkan bahwa proses produksi dapat diselesaikan dalam waktu beberapa hari, sekaligus membuka peluang kerja tambahan di lingkungannya.
Program pemberdayaan seperti ini dinilai tidak hanya membantu UMKM bertahan, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Dengan meningkatnya produksi, peluang penyerapan tenaga kerja juga ikut terbuka.
Para pelaku UMKM berharap dukungan serupa dapat terus berlanjut, baik melalui peningkatan serapan produk oleh perusahaan maupun penyelenggaraan kegiatan seperti bazar yang dapat memperluas akses pasar.
Langkah kolaboratif antara korporasi dan UMKM ini menjadi salah satu strategi efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama di tengah tantangan pasca Lebaran yang kerap dirasakan pelaku usaha kecil di berbagai daerah. (aga)

