Dubai (beritajatim.id) – Dua pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia berhasil menembus pasar Uni Emirat Arab (UEA) melalui realisasi ekspor perdana produk camilan sehat ke Dubai. Total nilai transaksi mencapai USD 10.588 atau sekitar Rp178,25 juta.
Ekspor tersebut dilakukan oleh CV Cahaya Sinar Terang asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Hundred Seed dari Denpasar, Bali. Keduanya menjalin kesepakatan dagang dengan perusahaan distribusi Live Better Trading di Dubai.
Keberhasilan ini merupakan hasil penjajakan bisnis (business matching) dan partisipasi dalam pameran dagang internasional yang difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui Indonesia Trade Promotion Center Dubai (ITPC Dubai).
Transaksi Tembus Rp178 Juta
Kepala ITPC Dubai, Widy Haryono, menyampaikan bahwa capaian ini menjadi bukti efektivitas strategi promosi ekspor ke UEA. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, tetapi juga memastikan terjadinya tindak lanjut hingga kontrak dagang terealisasi.
CV Cahaya Sinar Terang mencatat transaksi sebesar USD 5.888 (sekitar Rp99,13 juta) untuk produk bermerek Verlin dan Nola. Kesepakatan tersebut bermula dari partisipasi pada pameran International Süßwaren Messe (ISM) Middle East 2025 di Dubai pada September 2025.
Sementara itu, Hundred Seed melalui merek Granola Creations meraih transaksi USD 4.700 (sekitar Rp79,12 juta) lewat skema business matching daring yang difasilitasi Kemendag.
Produk Masuk Amazon UEA
Perwakilan Live Better Trading, Mariam, menilai produk camilan sehat Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar UEA. Sebagai langkah ekspansi, merek Verlin dan Nola kini telah resmi dipasarkan melalui platform Amazon UEA sejak Februari 2026.
Keberhasilan tersebut didukung kepatuhan terhadap standar mutu, proses verifikasi, inspeksi, serta prosedur kepabeanan yang ketat. Hal ini menjadi faktor penting dalam penetrasi pasar pangan olahan di kawasan Timur Tengah.
Sertifikasi dan Kepatuhan Jadi Kunci
CV Cahaya Sinar Terang diketahui telah mengantongi sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) sejak 2023 melalui fasilitasi Kemendag. Sertifikasi internasional ini memperkuat kredibilitas produk dalam memenuhi standar keamanan pangan global.
Widy Haryono menegaskan bahwa kesiapan mutu, kepatuhan regulasi internasional, serta standar kemasan dan pelabelan menjadi faktor utama untuk menembus pasar UEA. Permintaan terhadap produk makanan olahan sehat di negara tersebut terus meningkat seiring tren gaya hidup sehat.
Kemendag bersama ITPC Dubai berkomitmen memperluas akses pasar tidak hanya untuk produk pangan sehat, tetapi juga komoditas potensial UMKM lainnya.
Perdagangan Indonesia–UEA Tumbuh Positif
Kinerja perdagangan Indonesia dengan UEA menunjukkan tren pertumbuhan signifikan. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 6,44 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 4,03 miliar dan impor USD 2,41 miliar. Indonesia mencatat surplus USD 1,62 miliar.
Sebagai perbandingan, pada 2024 total perdagangan tercatat USD 5,07 miliar, dengan surplus Indonesia sebesar USD 1,06 miliar.
Sejumlah komoditas utama penyumbang ekspor meliputi mutiara, lemak dan minyak hewani, kendaraan, mesin dan perlengkapan listrik, serta besi dan baja.
Keberhasilan UMKM camilan sehat ini mempertegas potensi produk pangan olahan Indonesia di pasar global. Dengan dukungan promosi, sertifikasi mutu, dan strategi penetrasi digital, peluang ekspor ke kawasan Timur Tengah diproyeksikan terus berkembang pada 2026 dan seterusnya. (aga)

