Jakarta (beritajatim.id) – Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami Natali pada 2016 menjadi titik awal lahirnya Rolly Bakery & Cookies, sebuah usaha roti dan kue kering rumahan yang kini berkembang hingga pasar internasional. Berbekal tekad dan inovasi, usaha yang dirintis di kawasan Tanah Baru, Bogor itu tumbuh menjadi salah satu UMKM binaan BRI yang sukses naik kelas.
Usaha tersebut dimulai pada April 2016 dari toko kecil di halaman rumahnya. Sebelum memasarkan produk secara luas, Natali melakukan survei sederhana kepada warga sekitar untuk memastikan kualitas dan minat pasar. Strategi tersebut menjadi fondasi awal dalam membangun kepercayaan pelanggan.
Namun, tantangan segera muncul. Produk roti memiliki masa simpan terbatas dan jangkauan pemasaran masih lokal. Kondisi itu mendorong Natali mencari inovasi baru agar usahanya bisa bertahan dan berkembang.
Inovasi Cookies Keren dan Kolaborasi Petani Lokal
Langkah inovatif hadir pada Agustus 2018 melalui peluncuran “Cookies Keren” — singkatan dari kue kering keju aren. Produk ini memadukan cita rasa keju dengan gula aren yang dipasok dari petani di Cikasan, Sukabumi.
Kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat diferensiasi produk, tetapi juga membantu petani gula aren yang saat itu mengalami kelebihan produksi. Strategi ini menjadi nilai tambah karena mengusung konsep pemberdayaan rantai pasok lokal sekaligus menciptakan rasa unik yang diterima pasar.
Titik Balik Bersama Rumah BUMN BRI
Perkembangan signifikan terjadi saat Natali bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada 2019. Melalui program tersebut, ia memperoleh akses pelatihan manajemen usaha, penguatan branding, hingga pemanfaatan platform digital dan e-commerce.
Partisipasi dalam pameran UMKM binaan Rumah BUMN menjadi momentum penting. Dengan kemasan yang lebih profesional dan strategi promosi yang matang, visibilitas merek meningkat tajam.
Dampaknya terlihat pada lonjakan penjualan yang semula sekitar 1.000 kemasan per bulan menjadi 3.000 kemasan per bulan. Jangkauan distribusi pun meluas dari Bogor ke berbagai kota di Indonesia, termasuk Ambon dan Aceh, hingga menembus pasar Malaysia.
Selain penjualan ritel (B2C), peluang business to business (B2B) juga terbuka melalui program business matching. Bahkan, penjajakan pasar ekspor ke Taiwan mulai dilakukan melalui mitra potensial.
Komitmen BRI Dorong UMKM Go Global
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan bahwa kisah Rolly Bakery & Cookies mencerminkan dampak nyata program pemberdayaan UMKM yang dijalankan perusahaan secara berkelanjutan. Menurutnya, pendampingan terpadu melalui Rumah BUMN mencakup pelatihan, digitalisasi, hingga perluasan akses pasar dan jejaring bisnis.
BRI, lanjut Dhanny, berkomitmen mendorong UMKM agar tidak sekadar bertahan, melainkan mampu tumbuh dan naik kelas hingga siap bersaing di pasar global.
Program ini menjadi bagian dari strategi korporasi dalam memperkuat ekosistem UMKM nasional agar lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan dinamika pasar.
Target Ekspansi dan Profesionalisasi Produksi
Ke depan, Natali menargetkan pengembangan usaha tidak hanya di lini kue kering, tetapi juga memperkuat produksi roti. Ia berencana menghadirkan kelas workshop serta konsep open kitchen untuk meningkatkan profesionalisme dan transparansi proses produksi.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat positioning merek sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Natali juga berharap dukungan Rumah BUMN BRI terus diperluas, baik dari sisi pelatihan berkelanjutan, peningkatan eksposur digital, maupun kesempatan mengikuti pameran berskala nasional dan internasional.
Inspirasi UMKM Indonesia
Kisah Rolly Bakery & Cookies menjadi contoh konkret bagaimana krisis dapat bertransformasi menjadi peluang. Dengan inovasi produk, kolaborasi lokal, serta pendampingan yang tepat, UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk menembus pasar global.
Model pemberdayaan terintegrasi seperti yang dilakukan BRI melalui Rumah BUMN dinilai mampu mempercepat transformasi UMKM agar lebih kompetitif, adaptif, dan berdaya saing tinggi di era ekonomi digital.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lain bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk tumbuh — selama ada kemauan belajar, berinovasi, dan memanfaatkan ekosistem pendukung yang tersedia. (aga)

