Ngada (beritajatim.id) – Gelaran Wolobobo Ngada Festival (WNF) 2025 yang berlangsung di Art Center Kota Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, membawa dampak positif terhadap geliat ekonomi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Sebanyak 60 pelaku usaha dari Ngada dan sekitarnya, termasuk dari Kabupaten Nagekeo, Ende, dan Sikka, turut serta meramaikan festival yang telah masuk dalam daftar 100 Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut.
Pada hari pertama penyelenggaraan, sejumlah pelaku usaha mencatatkan omzet signifikan. Salah satu penjual kerajinan bambu seperti tempat buah, tempat lampu, sedotan, hingga tempat tisu mengaku meraup keuntungan lebih dari Rp1 juta hanya dalam satu hari. Produk-produk tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp25 ribu hingga Rp1 juta, dan mayoritas pembelinya berasal dari kalangan wisatawan asing yang tertarik menjadikan barang-barang itu sebagai oleh-oleh khas lokal.
Tak hanya kerajinan bambu, produk kain tenun ikat alami asal Kabupaten Sikka juga turut laris manis. Pelaku usaha tenun mematok harga mulai dari Rp800 ribu hingga Rp1,6 juta per lembar kain. Pada gelaran festival sebelumnya, ia bahkan mampu mencatat omzet hingga Rp10 juta, sebagian besar digunakan untuk kebutuhan logistik selama festival berlangsung.
Festival sebagai Motor Ekonomi Kreatif Lokal
Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu, dalam sambutan pembukaan festival pada Kamis, 7 Agustus 2025, menegaskan pentingnya menjadikan WNF sebagai motor penggerak ekonomi kreatif dan penguatan UMKM berbasis budaya lokal.
“Wolobobo Ngada Festival telah masuk dalam 100 KEN. Ini bukti nyata dukungan Kemenparekraf terhadap potensi wisata dan budaya di Ngada,” kata Bernadinus.
Ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memanfaatkan festival ini sebagai ruang kebersamaan, ekspresi budaya, dan pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Pasar Napu Bheto: Simbol Ekonomi Berbasis Budaya
Pada hari kedua festival, kemeriahan berlanjut di Kampus Bambu Turetogo, dengan penyelenggaraan Pasar Napu Bheto yang menampilkan 26 lapak produk lokal khas Ngada.
Para pengunjung dimanjakan dengan kuliner tradisional, kopi khas Bajawa, produk kerajinan, serta tenun ikat lokal. Menariknya, sistem transaksi dilakukan menggunakan 20.000 koin bambu, yang mencerminkan potensi perputaran ekonomi mencapai puluhan juta rupiah selama festival berlangsung.
“Pasar Napu Bheto bukan event sementara. Ini model ekonomi budaya yang akan terus kita dorong. Pemerintah akan mendukung keberlanjutannya,” ujar Wakil Bupati.
Selain aktivitas jual beli, pasar ini juga menjadi panggung budaya. Acara dimeriahkan oleh pertunjukan musik, nyanyian, monolog, jai kreasi, fashion show, hingga live music yang dibawakan oleh pelajar dari Golewa Raya dan Seminari Toda Belu Mataloko. Suasana meriah dan penuh semangat budaya terlihat sepanjang acara.
Peran Perempuan dan Komunitas Lokal
Lapak-lapak di Pasar Napu Bheto sebagian besar dikelola oleh ibu-ibu dari Kecamatan Golewa Raya, yang berperan aktif dalam menjaga warisan budaya sekaligus menambah pendapatan keluarga. Kehadiran komunitas dari luar Kabupaten Ngada juga memperkaya ragam produk dan semangat kebersamaan dalam festival ini.
Dengan semangat keberlanjutan dan inovasi berbasis tradisi, Wolobobo Ngada Festival 2025 bukan sekadar ajang hiburan. Festival ini telah tumbuh menjadi ruang hidup budaya, penggerak ekonomi rakyat, dan wujud nyata kolaborasi antarwilayah dalam membangun pariwisata berdaya saing di Nusa Tenggara Timur. (hdl)

