Demak (beritajatim.id) – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Andhika Satya W. Pangarso, mengunjungi Pasar Ngabei di Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam, dan menyatakan apresiasi serta komitmennya untuk mendukung keberlangsungan pasar rakyat berbasis lingkungan tersebut.
“Ini adalah kegiatan yang sangat baik. Ada unsur lingkungan, pemberdayaan UMKM, hingga pelestarian budaya lokal. Saya siap bantu fasilitas seperti meja dan kursi, dan saya berharap tiap kecamatan memiliki kegiatan serupa,” ungkap Andhika saat meninjau langsung aktivitas pasar, Minggu (3/8).
Ia juga mendorong agar Pasar Ngabei dipublikasikan secara luas agar bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia yang ingin mengembangkan ekonomi berbasis komunitas dan ramah lingkungan.
Kepala Desa Jogoloyo, Dennis Bakhria, turut menyampaikan rasa bangganya atas inisiatif warga yang telah melahirkan pasar unik tersebut. “Ini adalah mahakarya warga Jogoloyo. Jika tidak berinovasi, kami bisa tertinggal. Saya ingin UMKM di desa kami naik kelas, dan kehadiran Mas Andhika merupakan dukungan besar, terutama bagi ibu-ibu pelaku usaha di Pasar Ngabei,” tuturnya.
Pasar Unik Tanpa Plastik, Hidupkan Ekonomi dan Budaya
Pasar Ngabei yang digelar setiap pekan pertama pada hari Minggu ini menjadi ruang edukasi, transaksi, dan pelestarian budaya lokal. Ketua pengelola Pasar Ngabei, Masnu’ah, menyampaikan bahwa pasar ini lahir dari semangat gotong royong serta kepedulian terhadap lingkungan dan ekonomi lokal.
“Kami ingin masyarakat terbiasa hidup tanpa sampah plastik, sekaligus tetap melestarikan jajanan tradisional dan menghidupkan perekonomian desa,” ujarnya.
Dengan slogan “Belanja Asik Tanpa Nyampah Plastik”, seluruh transaksi di pasar dilakukan tanpa kantong plastik. Semua makanan dan minuman yang dijajakan adalah buatan warga lokal, di antaranya nasi jagung, nasi kuning, lontong sayur, nasi pecel, aneka getuk, kolak, hingga jamu tradisional. Harga pun sangat terjangkau, mulai dari Rp1.000 hingga Rp10.000.
Sistem Koin dan Digitalisasi Transaksi
Salah satu hal unik dari Pasar Ngabei adalah sistem pembayaran yang menggunakan koin sebagai alat tukar. Pengunjung menukarkan uang rupiah dengan tiga jenis koin senilai Rp2.000, Rp5.000, dan Rp10.000 sebelum berbelanja. Selain itu, pengelola pasar juga mulai memperkenalkan sistem QR Code sebagai upaya digitalisasi untuk mempermudah transaksi nontunai.
Masnu’ah menambahkan, ke depan pihaknya berharap ada dukungan yang lebih besar dari pemerintah daerah, DPR RI, maupun sektor swasta agar Pasar Ngabei terus berkembang dan menginspirasi desa-desa lain. (hdl)

